Kamis, 20 Maret 2014

Kaca Mata Cinta



KACA MATA CINTA
Oleh: Nursilan

Duduk Termenung di atas kursi bambu yang melintang di teras depan bersama secangkir kopi dan roti kebeng. Seorang diri tanpa percakapanpun menemani. Asap rokok yang keluar dari mulutnya semakin mengepul di teras.
Ia meratapi apa yang telah terjadi pada keluarganya. Dua bulan yang lalu ia mendapatkan masalah yang bertubi- tubi sehingga ia menjadi kewalahan dalam menangani. Untung saja ia cepat sadar akan dirinya bahwa sesungguh masih ada tempat ia mengadu.
Pada waktu itu, sekitar dua tahun yang lalu, Ramdi mempunyai keluarga yang pada pernikahannya dikaruniai seorang anak, Annisa namanya. Seorang istri yang sangat rajin, membanting tulang membantu suaminya dalam mencukupi keluraganya. Shalehah nama istrinya.
Ramdi adalah seorang yang tamatan SMA karena faktor ekonomi yang menyebabkan ia harus mengakhiri pendidikannya itu. Setelah ia beberapa bulan bekerja menggeluti dunia wiraswasta alias kerja bangunan, akhirnya ia memutuskan untuk menikah karena ia berfikir bahwa ada yang harus mengurusi dirinya. Iapun menikah dengan seorang  perempuan di desanya juga, Shalelah nama perempuan yang ia pilih. Selama pernikahannya itu, ia sangat rajin dan terus bekerja demi keluarga, tanpa ada kata capek terucap dari mulutnya.
Tak lama berjalan kehidupan baru bersama istri tercinta, ia pun dikaruniai seorang anak, ia beri nama Annisa. Annisa tumbuh menjadi seorang anak yang pintar dan cerdas. Ia di sekolahkan di dekat dengan rumahnya, karena bila jauh orang tuanya tidak mempunyai kendaraan untuk antar dan jemput anaknya.
Seiring perjalan hidup dengan pesatnya perkembangan zaman. Ramdi mendapatkan cobaan yang harus memperjuangkan segalanya. Ia harus membanting tulang untuk keluarga. Ia bekerja sebagai kuli bangunan, karena kebutuhan yang harus dipenuhi belum tercukupi dan kebutuhan tambahan juga sudah menunggu. Ia semakin tidak betah untuk bekerja sebagai kuli bangunan dan mencari pekerjaan lain. Karena gajinya tak seberapa.
Masalah yang ia hadapi bahwa, ia harus membayar SPP sekolah anaknya yang tertunda sudah dua bulan, selain itu ia juga harus membayar uang kontrakkan rumah yang didiaminya sekarang yang juga menunda tiga bulan dan yang terakhir istrinya mengeluh harus bekerja apa lagi utnuk mencukupi keluarga.
Ia pusing tujuh keliling harus menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Bagaiman sekolah anaknya tidak putus, istrinya tenang berada di rumah tanpa harus mengomel dan mereka tetap bisa tinggal di rumahnya tersebut.
Iapun mencari pekerjaan tambahan. Di pagi hari hingga sore hari ia bekerja sebagai kuli bangunan dan malam hari setelah shalat Isya ia menjadi pemulung sampah. Demi keluarga dicinta. Ia rela berkorban apapun demi mereka. Ia berfikir bahwa semuanya pasti ada jalan keluarnya tetapi dengan syarat berdo’a, berusaha dan bertawakal kepada Sang Pencipta.
Dari minggu ke bulan dan bulan ke tahun ia menggeluti dunia tukang dan pemulung dalam satu hari satu malam. Ia rela melakukan demi kebahagian keluarga.
Namun permasalahan tetaplah permasalahan yang harus diselesaikan. Karena sudah beberapa bulan tidak membayar uang SPP sekolah anaknya, akhirnya ia mendapatkan surat peringatan dari pihak sekolah bahwasanya bila SPP anaknya tidak dibayar besok hari maka keesokkan harinya lagi anaknya tidak boleh masuk sekolah seperti biasanya.
Lain halnya dengan istrinya, karena sudah capek dengan kehidupan bersama suaminya, ia meminta cerai dan suaminya mendapatkan surat panggilan cerai ke Pengadilan Agama besok hari pukul satu siang. Dan ia juga kedatangan tamu bahwa esok juga ia harus membayar kontrakkan rumah yang menunda beberapa bulan yang lalu pada pukul sepuluh pagi.
‘’Bapak, ada yang ingin saya bicarakan?’’, kata istrinya
‘’Ada apa, Ma?’’ tanya suaminya balik.
‘’Pak, sepertinya saya sudah capek dengan semuanya, saya ingin bebas’’. Ungkap Shalehah dengan nada pelan.
‘’Apa?’’, Ramdi terperanjat mendengarnya.
‘’Kamu ingin bebas?’’, tanya Ramdi lagi
‘’Iya, Pa. Begitu banyak rintangan dan saya sudah kapok. Lain halnya dengan rumah kita, uang SPP anak kita. Pokoknya saya ingin cerai’’. Tegas Shalehah,
Ramdi terdiam dengan seribu bahasa sambil menyandarkan badannya ke dinding. Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Sedang uang yang terkumpul juga belum mencukupi untuk membayar semuanya.
Di dalam benaknya hanya ada kebahagian. Bagaimana ia harus mempertahankan istrinya yang ingin minta cerai, mempertahankan agar anaknya tetap bisa sekolah dan bisa tetap tinggal di rumahnya.
Di malam hari yang sunyi, semoa orang sudah tidur nyenyak dengan tiupan angin malam. Namun Ramdi terbangun dari tidurnya. Ia segera ke sumur mengambil air wudhu. Di dalam benak pikirannya hanya istri, anak dan rumah.
Setelah mengambil wudhu ia langsung mengganti pakaian dan mengenakan pakaian shalat. Ia mendirikan shalat Tahajut  dan berdo’a.
‘’Ya Allah, Azza Wa Jalla. Aku sedang mendapatkan musibah. Mungkin dengn musibah ini Engkau ingin mengangkat derajat hambamu di mata-Mu. Ya Alla berikanlah solusi yang tepat dalam permasalahan ini. Bagaimanapun istriku tetap dipangkuanku, anakku tetap bisa sekolah dan kami sekeluarga bisa tinggal di rumah kami ini.
Kemudian setelah itu membaca al-qur’an. Pada saat membuka lembaran qur’an ia terbuka pada surah at-Thalaq ayat ke 2 dan 3.
Di dalam ayat tersebut mengatakan bahwa barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan dia memberikan rezeki dari ar4ah yang tidak di sangka- sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya dan sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi sesuatu.
Setelah Ramdi membaca ayat tersebut, hatinya semakin lapang. Ia menangis memohon do’a kepada Allah dan meminta yang terbaik dari-Nya. Ia pun tertidur hingga shalat Subuh tiba.
Pagi- pagi sekali ada sosok orang yang datang dan menuju rumahnya. Ia ketakutan karena ia kepikiran bahwa hari ini rumahnya akan digusur bila belum bisa membayar kontrakkan rumahnya. Pikirannya semakin galau dan semakin kusut. Padahal janji pemilik rumah datang pada pukul sepuluh pagi.
Setelah wujud itu tampak dari kedekatan, barulah hatinya tenang. Ternyata yang datang itu adalah teman lamanya. Ia heran dengan teman satu ini, karena pagi- pagi sekali sudah bertamu di rumahnya.
Tamunya disuruh masuk. Dibuatkannya air dan disajikannya roti sekedarnya. Tamunya pun menyampaikan hajat mengapa ia datang pagi- pagi sekali.
‘’Ramdi, apa kabar?’’, tanya Ronal teman lamanya.
‘’Baik- baik saja. Ya... seperti yang engkau lihat, kawan’’. Jawab Ramdi.
‘’Ada apa kawan, pagi- pagi sudah mampir ke rumahku?’’, tanya Ramdi balik
‘’Saya punya hajat. Mudah- mudahan kamu bisa bekerja sama denganku ya?’’, tanya Ronal lagi.
‘’Insyaallah, kalau saya bisa melakukannya, saya siap’’. Jawab Ramdi.
‘’Begini, saya ingin membuat rumah besarnya lumayanlah besarnya sekitar 12 x 12 meter. Bagaimana?’’, tanya Ronal
‘’Baiklah’’. Ramdipun menerima tawaran dari Ronal. Ia tidak mau basa basi lagi atas rezeki yang telah datang di depan mata.
Mungkin ini adalah jawaban atas permintaannya semalam. Bahwa Allah tidak tuli, Allah mendengarkan keluh kesah hambanya yang lagi kesusahan.
‘’Ramdi, ini bingkisan sebagai uang sakumu dalam pengerjaan rumahku. Ini untuk kamu sekeluarga, semoga bermanfaat’’, cetus Ronal sambil mengulurkan tangan yang disertai sebuah amplop kuning tebal.
Dibukanya amplop tersebut,’’Apa kamu tidak salah kasih untukku sekeluarga. Kamu bercanda kan?’’, tanya Ramdi dengan heran.
‘’Tidak. Ini benar- benar dariku untuk memberikan bingkisan kepadamu, Ramdi’’. Jawab Ronal sambil mengelus punggung temannya.
‘’Terima kasih ya... Sepertinya aku berada dalam mimpi’, ungkap Ramdi sambil menyalami temannya yang sudah sukses itu.
‘’Pasti anak dan istriku akan senang mendengarnya’’, cetus dia dalam hati.
‘’O ya, Ramdi. Ini uang untuk bayar hutang yang telah lama kupinjam darimu. Uang 5 juta rupiah. Ingat tidak atas pinjamanku kepadamu di kala ingin membuka usaha?’’, cerita Ronal memperpanjang percakapannya.
‘’Aku sama sekali tidak ingat dengan hal itu, Ronal. Tapi ya sudahlah. Kamu lupakan saja. Ini sudah cukup bagiku, uang sebesar lima belas juta sudah cukup untuk menghidupi keluargaku’’, jawab Ramdi.
Tlit...tlit..tlit....
Bunyi handphone Ronal berdering pertanda bunyi sms masuk.
‘’Ronal, kamu segera ke kantor. Ada berita penting yang harus disampaikan’’. Begitulah bentuk pesan singkat dari teman sekantornya.
‘’Ramdi, mohon maaf, sepertinya aku segera pulang ke kantor. Nanti saya akan mengabarkan kepadamu kapan akan dilaksanakannya’’, jelas Ronal.
Setelah tamunya tadi pulang ia menyempatkan diri untuk pergi ke sekolah anaknya untuk membayar SPP yang telah lama menunda. Setelah itu pulang ke rumah menunggu tuang rumah guna untuk membayar kontrakkan rumah dan yang terakhir ia harus menjemput istrinya dan menjelaskan bahwa ia sudah bisa membayar SPP anaknya dan uang kontrakkan.
Anak, istrinya pulang kembali ke rumah dan Ramdi mendapat pekerjaan tetap tanpa harus istri bekerja membantu membanting tulang dalam mencukupi kebutuhan keluarga.
Kembalinya semua suasana seperti dulu, canda tawa, senda dan gurau seperti yang dulu. Keluarga harmonis menjadi target awal bagi Ramdi.
‘’Ma, maafkan aku bila selama ini telah mengecewakanmu. Aku ucapkan terima kasih atas bantuanmu dalam mencukupi keperluan keluarga kita’’. Ungkap Ramdi sambil memegang tangan Shalehah.
‘’Pa, ini semua bukan salahmu. Ini adalah jalan hidup kita, bagaimana kita berusaha dan bertawakal atas apa yang telah kita lakukan’’. Jawab istrinya.
‘’Papa, terima kasih juga ya, sekarang Annisa bisa sekolah lagi. Annisa akan belajar lebih giat lagi. Annisa janji’’. Kata Annisa dengan menyakinkan kedua orang tuannya.
‘’Annisa sayang Papa dan Mama’’. Annisa memeluk kedua orang tuannya.
Dari kejadian yang telah terjadi, ini menjadi pelajaran bagi dia. Ia akan terus berjuang membahagiakan anak dan istrinya. Bilamana mempunyai masalah, kendala dalam proses pembentukan keluarga sakinah, ia harus saling bermusyawarah untuk menemukan titik temunya. Mereka akan lebuh terbuka lagi agar jangan sampai membuat keluarganya berantakkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar