Kamis, 20 Maret 2014

Hantu Hujan Panas



HANTU HUJAN PANAS

Hujan turun disertai dengan sinar matahri yang memancar dengan begitu cerahnya. Seiring waktu tampak hiasan dilangit menyertai hujan serta panas, pelangi yang indah. Merah, kuning, hijau dan biru, warna yang unik dan cerah.
Buyung tetap saja berada di rumah- rumahannya yang terdapat di semak pohon cingkodok. Dengan tiang kayu dan dindingkan cingkodok beratap daun pisang, ia bersama teman- temannya menikmati suasana hujan panas tersebut.
Rintik semakin deras dan panas terik matahari juga tidak kalah, mereka berlari ke sebuah rumah kosong yang telah lama tidak dihuni oleh penghuninya. Mereka berteduh di sana sambil menunggu ujan panas reda. Sambil berteduh terselip di telingan mereka dedaunan atau benda yang mereka namai sunting dengan tujuan agar hantu hujan panas tidak mengganggu mereka yang berada di luar rumah.
‘’Aku suntingkan daun lalang’’. Kata Mia
‘’Aku suntingkan daun segi padak’’. Kata Pida
‘’Aku suntingkan rumput’’. Kata Buyung
Masing- masing mereka punya suntingan, mereka simpan di telinga dan dikenal dengan penangkal hantu hujan panas.
Keesokkan harinya mereka berbagi cerita dengan sesama,’’Kitak tau dak, gimane rupe hantu hujan panas e’’. Tanya Mia kepada Pida.
‘’Kata Emakku kalau hantu hujan panas itu bewarna merah, kalau dia memasang jaringan dan bila terkena manusia maka manusia yang terkena dan menghilang, ikut bersama hantu hujan panas tersebut sebagai santapan mereka’’. Jawab Pida.
Buyung juga tidak kalah, dia pun bercerita dengan temannya karena seminggu yang lalu tetangga temannya melihat hantu hujan panas secara langsung dan jelas sekali.
‘’Waktu itu ada tetangga Miswar melihat hantu hujan panas, dan kejadiannya di dekat rumah, di tepi jalan dekat dengan pisang. Lalu tetangga Miswar tersebut langsung membaca ayat kursi sebagai penangkal hantu hujan panas, lalu dengan spontan hantu tersebut bersama jaringannya hilang tanpa membekas. Malam harinya, tetangga Miswar tersebut bermimpi kedatangan tamu hujan panas, dia sangat marah dan mengatakan,’’Mengapa kamu mengganggu aka padahal aku tidak mengganggumu’’, tanya hantu hujan panas. Dan tetangga tersebut menjawab,’’Kamu memasang jaringan di tepi jalan dan bisa- bisa mengganggu aktivitas manusia’’. Jawab tetangga Miswar tersebut dan langsung terbangun.
‘’Nah begitu ceritanya, jadi betul kata Pida bahwa hantu hujan panas itu bewarna merah dan menyeramkan dan juga bisa membunuh’’, ungkap Buyung.
Malam juga hampir menjelang, Buyung dan teman- temannya pulang ke rumah masing- masing.
Setibanya di rumah, Buyung merasakan keanehan pada dirinya, ia merasa lesu, badannya panas dan merasa gelisah. Ia pun jatuh sakit. Tetapi semangat dia untuk belajar tetap tinggi sehingga walaupun keadaanya tidak memungkinkan seharusnya untuk sekolah tetapi tetap dipaksakannya. Selama seminggu ia menahan panas tinggi pada tubuhnya terakhir ia di suruh ke puskesmas dan setelah itu langsung pulang.
‘’Mak, badan along panas, lemah’’, ceritan Buyung kepada Emaknya.
‘’Mengapa?, kamu terakhir ke mana?’’, tanya Emaknya balik
‘’Kemarin along dengan kawan- kawan bermain rumah- rumahan di dekat rumah Ngah Mawi lalu hujan panas. Kami sempat berteduh di rumah kosong lalu pulang ke rumah’’, cerita Buyung dengan nada ketakutan.
Buyung disuruh berbaring dengan kepala dilumuri dengan air asam jawa agar panasnya tidak terlalu tinggi.
Emak Buyung langsung memanggil Pak Dukun yang tinggal di dekat rumahnya. Pak Dukun langsung mengobati Buyung dengan menyuruhnya meminum akar ilalang yang sebelumnya di tumbuk.
‘’Mak, pahit?’’, ungkap Buyung sambil menggerutkan keningnya.
‘’Tidak apa- apa minum saja, biar panasnya cepat turun’’. Jawab Emak.
Setiap tubuh Buyung yang terdapat celahnya digiling dengan sebuah batu sebesar telur ayam dan bewarna hitam pekat. Terasa geli membuat Buyung tertawa.
‘’Tahan- tahan, jangan bergerak’’. Kata Pak Dukun
‘’Geli Mak’’, Teriak kecil Buyung sambil menggeliatkan badannya yang tergiling telur hitam tersebut.
Tiga hari berlalu pengobatan tersebut, ke tiga kalinya Pak Dukung di beri besi dan benang sebagai tampas atau imbalan pengobatan. Setelah pembacaan do’a oleh Pak Dukun pada paku dan benang yang di berikan Emak Buyung lalu pembacaan air tawar atau air penawar dan ada sedikit uang salam (uang yang diberikan sambil bersalaman atau yang dikenal dengan salam tempel).
Sorenya Buyung terakhir di obati oleh Pak Dukun, malamnya Buyung ngigau dan Emaknya sadar.
‘’Buyung, aku pulang dulu, ya...?’’, ungkap Buyung dengan mata terpejam.
‘’Iya, pulang saja. Jangan ganggu Buyung lagi’’. Jawab Emak sambil mengusap kening anaknya yang masih panas.
Keesokkan harinya panas pada badan Buyung menurun dan normal kembali. Buyung bisa bermain seperti biasanya dengan teman- temannya. Ia pun bercerita dengan teman- temannya pasal ia demam.
‘’Kata Emakku, semalam ada yang pamitan dengan dia, lalu kata Emakku,’’Iya, pergilah tetapi jangan ganggu Buyung lagi ya?’’, kata emakku cerita Buyung pada temannya.
‘’Yung, aku ade cerite tentang Hantu Hujan Panas’’, kata Pida.
‘’Memangnya ada apa?’’, tanya Buyung dengan penasaran.
‘’Orang sungai kelambu pergi ke huma, lalu karena hujan panas ia duduk sambil memancing di dekat dengan pohon sagu. Sebelum orang itu hilang di sembunyikan hantu hujan panas, sesorang melihat dia duduk di dekat parit kecil dan pohon sagu’’.
‘’Entah bagaimana semalam orang mencarinya tidak ketemu, selama tiga hari tiga malam belum juga ketemu dan akhirnya memanggi Dukun. Dengan mata batinyya, ia menerawang bahwa orang yang duduk di dekat parit itu tidak jauh dari sini dan setelah di kumandangkan azan di sore hari menjelang Maghrib, seseorang menemukan orang yang hilang tersebut di dekat pohon sagu. Dengan keadaan sudah tidak benyawa, badannya lendir seperti bayi yang baru lahir, mungkin karena diselubungi oleh hantu hujan panas’’. Cerita Pida kepada Buyung dan teman- temannya.
Lain halnya dengan Kharisma, ia pun menceritakan tentang hantu hujan panas setelah mendengar cerita dari ayahnya.
‘’Yak, di Jawai juga pernah seperti itu tetapi dia tahu bagaimana cara mengelabui hantu hujan panas tersebut agar tidak terkena jalanya’’, Kharisma mengawali ceritanya.
‘’Terus bagaimana cara mengelabui hantu hujan panas’’. Tanya Pida dengan penasaran.
‘’Masak sih, hantu bisa dikelabui’’, canda Buyung sambil tertawa kecil.
‘’Benar ceritanya’’. Kharisma menyakinkan teman- temannya
‘’Kata ayahku, kalau kita bertemu jari- jaring atau jalanya hantu hujan panas kita bisa mengendap dengan tengkurap biar bayangan kita tidak tampak. Dan kita harus punya teman’’. Cerita Kharisma.
‘’Terus, kalau kita sendiri bagaimana?’’, tanya Mia
‘’Kalau kita sendiri bisa menyebutkan, kalau kita melihat rumput katakan,’’Rumput temanku’’ andai kata air yang kamu lihat katakan,’’Air temanku’’, yang penting kita ada teman’’. Jawab Kharisma.
‘’Ma, kalau kita tidak melakukan itu seperti sunting bagaimana?’’, tanya Buyung dengan penasaran.
‘’Kalau kita tidak tahu lalu lewat jaringnya hantu hujan panas ya, terkenalah kita bisa- bisa kita mati dibuatnya karena sebagai santapan dia’’, jawab Kharisma lagi.
‘’Siiittttt, diam. Lihat jam. Jam sudah menunjukkan ke angka 5. Aku pulang dulu ya, mau mandi shalat Maghrib. Assalamu’alaikum,’’salam Buyung.
‘’Wa’alaikum salam’’. Jawan teman- temannya dengan serempak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar