HANTU HUJAN PANAS
Hujan turun
disertai dengan sinar matahri yang memancar dengan begitu cerahnya. Seiring
waktu tampak hiasan dilangit menyertai hujan serta panas, pelangi yang indah.
Merah, kuning, hijau dan biru, warna yang unik dan cerah.
Buyung tetap
saja berada di rumah- rumahannya yang terdapat di semak pohon cingkodok. Dengan
tiang kayu dan dindingkan cingkodok beratap daun pisang, ia bersama teman-
temannya menikmati suasana hujan panas tersebut.
Rintik semakin
deras dan panas terik matahari juga tidak kalah, mereka berlari ke sebuah rumah
kosong yang telah lama tidak dihuni oleh penghuninya. Mereka berteduh di sana
sambil menunggu ujan panas reda. Sambil berteduh terselip di telingan mereka
dedaunan atau benda yang mereka namai sunting dengan tujuan agar hantu hujan
panas tidak mengganggu mereka yang berada di luar rumah.
‘’Aku
suntingkan daun lalang’’. Kata Mia
‘’Aku
suntingkan daun segi padak’’. Kata Pida
‘’Aku
suntingkan rumput’’. Kata Buyung
Masing- masing mereka
punya suntingan, mereka simpan di telinga dan dikenal dengan penangkal hantu
hujan panas.
Keesokkan
harinya mereka berbagi cerita dengan sesama,’’Kitak tau dak, gimane rupe hantu
hujan panas e’’. Tanya Mia kepada Pida.
‘’Kata Emakku
kalau hantu hujan panas itu bewarna merah, kalau dia memasang jaringan dan bila
terkena manusia maka manusia yang terkena dan menghilang, ikut bersama hantu
hujan panas tersebut sebagai santapan mereka’’. Jawab Pida.
Buyung juga
tidak kalah, dia pun bercerita dengan temannya karena seminggu yang lalu tetangga
temannya melihat hantu hujan panas secara langsung dan jelas sekali.
‘’Waktu itu ada
tetangga Miswar melihat hantu hujan panas, dan kejadiannya di dekat rumah, di
tepi jalan dekat dengan pisang. Lalu tetangga Miswar tersebut langsung membaca
ayat kursi sebagai penangkal hantu hujan panas, lalu dengan spontan hantu
tersebut bersama jaringannya hilang tanpa membekas. Malam harinya, tetangga
Miswar tersebut bermimpi kedatangan tamu hujan panas, dia sangat marah dan
mengatakan,’’Mengapa kamu mengganggu aka padahal aku tidak mengganggumu’’,
tanya hantu hujan panas. Dan tetangga tersebut menjawab,’’Kamu memasang
jaringan di tepi jalan dan bisa- bisa mengganggu aktivitas manusia’’. Jawab
tetangga Miswar tersebut dan langsung terbangun.
‘’Nah begitu
ceritanya, jadi betul kata Pida bahwa hantu hujan panas itu bewarna merah dan
menyeramkan dan juga bisa membunuh’’, ungkap Buyung.
Malam juga
hampir menjelang, Buyung dan teman- temannya pulang ke rumah masing- masing.
Setibanya di
rumah, Buyung merasakan keanehan pada dirinya, ia merasa lesu, badannya panas
dan merasa gelisah. Ia pun jatuh sakit. Tetapi semangat dia untuk belajar tetap
tinggi sehingga walaupun keadaanya tidak memungkinkan seharusnya untuk sekolah
tetapi tetap dipaksakannya. Selama seminggu ia menahan panas tinggi pada
tubuhnya terakhir ia di suruh ke puskesmas dan setelah itu langsung pulang.
‘’Mak, badan
along panas, lemah’’, ceritan Buyung kepada Emaknya.
‘’Mengapa?,
kamu terakhir ke mana?’’, tanya Emaknya balik
‘’Kemarin along
dengan kawan- kawan bermain rumah- rumahan di dekat rumah Ngah Mawi lalu hujan
panas. Kami sempat berteduh di rumah kosong lalu pulang ke rumah’’, cerita
Buyung dengan nada ketakutan.
Buyung disuruh
berbaring dengan kepala dilumuri dengan air asam jawa agar panasnya tidak terlalu
tinggi.
Emak Buyung
langsung memanggil Pak Dukun yang tinggal di dekat rumahnya. Pak Dukun langsung
mengobati Buyung dengan menyuruhnya meminum akar ilalang yang sebelumnya di
tumbuk.
‘’Mak,
pahit?’’, ungkap Buyung sambil menggerutkan keningnya.
‘’Tidak apa-
apa minum saja, biar panasnya cepat turun’’. Jawab Emak.
Setiap tubuh
Buyung yang terdapat celahnya digiling dengan sebuah batu sebesar telur ayam
dan bewarna hitam pekat. Terasa geli membuat Buyung tertawa.
‘’Tahan- tahan,
jangan bergerak’’. Kata Pak Dukun
‘’Geli Mak’’,
Teriak kecil Buyung sambil menggeliatkan badannya yang tergiling telur hitam
tersebut.
Tiga hari
berlalu pengobatan tersebut, ke tiga kalinya Pak Dukung di beri besi dan benang
sebagai tampas atau imbalan pengobatan. Setelah pembacaan do’a oleh Pak Dukun
pada paku dan benang yang di berikan Emak Buyung lalu pembacaan air tawar atau
air penawar dan ada sedikit uang salam (uang yang diberikan sambil bersalaman
atau yang dikenal dengan salam tempel).
Sorenya Buyung
terakhir di obati oleh Pak Dukun, malamnya Buyung ngigau dan Emaknya sadar.
‘’Buyung, aku
pulang dulu, ya...?’’, ungkap Buyung dengan mata terpejam.
‘’Iya, pulang
saja. Jangan ganggu Buyung lagi’’. Jawab Emak sambil mengusap kening anaknya
yang masih panas.
Keesokkan harinya
panas pada badan Buyung menurun dan normal kembali. Buyung bisa bermain seperti
biasanya dengan teman- temannya. Ia pun bercerita dengan teman- temannya pasal
ia demam.
‘’Kata Emakku,
semalam ada yang pamitan dengan dia, lalu kata Emakku,’’Iya, pergilah tetapi
jangan ganggu Buyung lagi ya?’’, kata emakku cerita Buyung pada temannya.
‘’Yung, aku ade
cerite tentang Hantu Hujan Panas’’, kata Pida.
‘’Memangnya ada
apa?’’, tanya Buyung dengan penasaran.
‘’Orang sungai
kelambu pergi ke huma, lalu karena hujan panas ia duduk sambil memancing di
dekat dengan pohon sagu. Sebelum orang itu hilang di sembunyikan hantu hujan
panas, sesorang melihat dia duduk di dekat parit kecil dan pohon sagu’’.
‘’Entah
bagaimana semalam orang mencarinya tidak ketemu, selama tiga hari tiga malam
belum juga ketemu dan akhirnya memanggi Dukun. Dengan mata batinyya, ia menerawang
bahwa orang yang duduk di dekat parit itu tidak jauh dari sini dan setelah di
kumandangkan azan di sore hari menjelang Maghrib, seseorang menemukan orang yang
hilang tersebut di dekat pohon sagu. Dengan keadaan sudah tidak benyawa,
badannya lendir seperti bayi yang baru lahir, mungkin karena diselubungi oleh
hantu hujan panas’’. Cerita Pida kepada Buyung dan teman- temannya.
Lain halnya
dengan Kharisma, ia pun menceritakan tentang hantu hujan panas setelah
mendengar cerita dari ayahnya.
‘’Yak, di Jawai
juga pernah seperti itu tetapi dia tahu bagaimana cara mengelabui hantu hujan
panas tersebut agar tidak terkena jalanya’’, Kharisma mengawali ceritanya.
‘’Terus
bagaimana cara mengelabui hantu hujan panas’’. Tanya Pida dengan penasaran.
‘’Masak sih,
hantu bisa dikelabui’’, canda Buyung sambil tertawa kecil.
‘’Benar
ceritanya’’. Kharisma menyakinkan teman- temannya
‘’Kata ayahku,
kalau kita bertemu jari- jaring atau jalanya hantu hujan panas kita bisa
mengendap dengan tengkurap biar bayangan kita tidak tampak. Dan kita harus
punya teman’’. Cerita Kharisma.
‘’Terus, kalau
kita sendiri bagaimana?’’, tanya Mia
‘’Kalau kita
sendiri bisa menyebutkan, kalau kita melihat rumput katakan,’’Rumput temanku’’
andai kata air yang kamu lihat katakan,’’Air temanku’’, yang penting kita ada
teman’’. Jawab Kharisma.
‘’Ma, kalau
kita tidak melakukan itu seperti sunting bagaimana?’’, tanya Buyung dengan
penasaran.
‘’Kalau kita
tidak tahu lalu lewat jaringnya hantu hujan panas ya, terkenalah kita bisa-
bisa kita mati dibuatnya karena sebagai santapan dia’’, jawab Kharisma lagi.
‘’Siiittttt,
diam. Lihat jam. Jam sudah menunjukkan ke angka 5. Aku pulang dulu ya, mau
mandi shalat Maghrib. Assalamu’alaikum,’’salam Buyung.
‘’Wa’alaikum
salam’’. Jawan teman- temannya dengan serempak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar