KACA
MATA CINTA
Oleh:
Nursilan
Duduk
Termenung di atas kursi bambu yang melintang di teras depan bersama secangkir
kopi dan roti kebeng. Seorang diri tanpa percakapanpun menemani. Asap rokok
yang keluar dari mulutnya semakin mengepul di teras.
Ia
meratapi apa yang telah terjadi pada keluarganya. Dua bulan yang lalu ia mendapatkan
masalah yang bertubi- tubi sehingga ia menjadi kewalahan dalam menangani.
Untung saja ia cepat sadar akan dirinya bahwa sesungguh masih ada tempat ia
mengadu.
Pada
waktu itu, sekitar dua tahun yang lalu, Ramdi mempunyai keluarga yang pada
pernikahannya dikaruniai seorang anak, Annisa namanya. Seorang istri yang
sangat rajin, membanting tulang membantu suaminya dalam mencukupi keluraganya.
Shalehah nama istrinya.
Ramdi
adalah seorang yang tamatan SMA karena faktor ekonomi yang menyebabkan ia harus
mengakhiri pendidikannya itu. Setelah ia beberapa bulan bekerja menggeluti dunia
wiraswasta alias kerja bangunan, akhirnya ia memutuskan untuk menikah karena ia
berfikir bahwa ada yang harus mengurusi dirinya. Iapun menikah dengan
seorang perempuan di desanya juga,
Shalelah nama perempuan yang ia pilih. Selama pernikahannya itu, ia sangat
rajin dan terus bekerja demi keluarga, tanpa ada kata capek terucap dari
mulutnya.
Tak
lama berjalan kehidupan baru bersama istri tercinta, ia pun dikaruniai seorang
anak, ia beri nama Annisa. Annisa tumbuh menjadi seorang anak yang pintar dan
cerdas. Ia di sekolahkan di dekat dengan rumahnya, karena bila jauh orang
tuanya tidak mempunyai kendaraan untuk antar dan jemput anaknya.
Seiring
perjalan hidup dengan pesatnya perkembangan zaman. Ramdi mendapatkan cobaan
yang harus memperjuangkan segalanya. Ia harus membanting tulang untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai kuli bangunan, karena kebutuhan yang harus dipenuhi belum
tercukupi dan kebutuhan tambahan juga sudah menunggu. Ia semakin tidak betah
untuk bekerja sebagai kuli bangunan dan mencari pekerjaan lain. Karena gajinya
tak seberapa.
Masalah
yang ia hadapi bahwa, ia harus membayar SPP sekolah anaknya yang tertunda sudah
dua bulan, selain itu ia juga harus membayar uang kontrakkan rumah yang
didiaminya sekarang yang juga menunda tiga bulan dan yang terakhir istrinya
mengeluh harus bekerja apa lagi utnuk mencukupi keluarga.
Ia
pusing tujuh keliling harus menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Bagaiman sekolah anaknya tidak putus, istrinya tenang berada di rumah tanpa
harus mengomel dan mereka tetap bisa tinggal di rumahnya tersebut.
Iapun
mencari pekerjaan tambahan. Di pagi hari hingga sore hari ia bekerja sebagai
kuli bangunan dan malam hari setelah shalat Isya ia menjadi pemulung sampah.
Demi keluarga dicinta. Ia rela berkorban apapun demi mereka. Ia berfikir bahwa
semuanya pasti ada jalan keluarnya tetapi dengan syarat berdo’a, berusaha dan
bertawakal kepada Sang Pencipta.
Dari
minggu ke bulan dan bulan ke tahun ia menggeluti dunia tukang dan pemulung
dalam satu hari satu malam. Ia rela melakukan demi kebahagian keluarga.
Namun
permasalahan tetaplah permasalahan yang harus diselesaikan. Karena sudah beberapa
bulan tidak membayar uang SPP sekolah anaknya, akhirnya ia mendapatkan surat
peringatan dari pihak sekolah bahwasanya bila SPP anaknya tidak dibayar besok
hari maka keesokkan harinya lagi anaknya tidak boleh masuk sekolah seperti
biasanya.
Lain
halnya dengan istrinya, karena sudah capek dengan kehidupan bersama suaminya,
ia meminta cerai dan suaminya mendapatkan surat panggilan cerai ke Pengadilan
Agama besok hari pukul satu siang. Dan ia juga kedatangan tamu bahwa esok juga
ia harus membayar kontrakkan rumah yang menunda beberapa bulan yang lalu pada
pukul sepuluh pagi.
‘’Bapak,
ada yang ingin saya bicarakan?’’, kata istrinya
‘’Ada
apa, Ma?’’ tanya suaminya balik.
‘’Pak,
sepertinya saya sudah capek dengan semuanya, saya ingin bebas’’. Ungkap
Shalehah dengan nada pelan.
‘’Apa?’’,
Ramdi terperanjat mendengarnya.
‘’Kamu
ingin bebas?’’, tanya Ramdi lagi
‘’Iya,
Pa. Begitu banyak rintangan dan saya sudah kapok. Lain halnya dengan rumah
kita, uang SPP anak kita. Pokoknya saya ingin cerai’’. Tegas Shalehah,
Ramdi
terdiam dengan seribu bahasa sambil menyandarkan badannya ke dinding. Ia tidak
tahu harus berbuat bagaimana. Sedang uang yang terkumpul juga belum mencukupi untuk
membayar semuanya.
Di
dalam benaknya hanya ada kebahagian. Bagaimana ia harus mempertahankan istrinya
yang ingin minta cerai, mempertahankan agar anaknya tetap bisa sekolah dan bisa
tetap tinggal di rumahnya.
Di
malam hari yang sunyi, semoa orang sudah tidur nyenyak dengan tiupan angin
malam. Namun Ramdi terbangun dari tidurnya. Ia segera ke sumur mengambil air
wudhu. Di dalam benak pikirannya hanya istri, anak dan rumah.
Setelah
mengambil wudhu ia langsung mengganti pakaian dan mengenakan pakaian shalat. Ia
mendirikan shalat Tahajut dan berdo’a.
‘’Ya
Allah, Azza Wa Jalla. Aku sedang mendapatkan musibah. Mungkin dengn musibah ini
Engkau ingin mengangkat derajat hambamu di mata-Mu. Ya Alla berikanlah solusi
yang tepat dalam permasalahan ini. Bagaimanapun istriku tetap dipangkuanku,
anakku tetap bisa sekolah dan kami sekeluarga bisa tinggal di rumah kami ini.
Kemudian
setelah itu membaca al-qur’an. Pada saat membuka lembaran qur’an ia terbuka
pada surah at-Thalaq ayat ke 2 dan 3.
Di
dalam ayat tersebut mengatakan bahwa barang siapa yang bertaqwa kepada Allah
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan dia memberikan rezeki
dari ar4ah yang tidak di sangka- sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan-Nya dan sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi
sesuatu.
Setelah
Ramdi membaca ayat tersebut, hatinya semakin lapang. Ia menangis memohon do’a
kepada Allah dan meminta yang terbaik dari-Nya. Ia pun tertidur hingga shalat
Subuh tiba.
Pagi-
pagi sekali ada sosok orang yang datang dan menuju rumahnya. Ia ketakutan
karena ia kepikiran bahwa hari ini rumahnya akan digusur bila belum bisa
membayar kontrakkan rumahnya. Pikirannya semakin galau dan semakin kusut. Padahal
janji pemilik rumah datang pada pukul sepuluh pagi.
Setelah
wujud itu tampak dari kedekatan, barulah hatinya tenang. Ternyata yang datang
itu adalah teman lamanya. Ia heran dengan teman satu ini, karena pagi- pagi
sekali sudah bertamu di rumahnya.
Tamunya
disuruh masuk. Dibuatkannya air dan disajikannya roti sekedarnya. Tamunya pun
menyampaikan hajat mengapa ia datang pagi- pagi sekali.
‘’Ramdi,
apa kabar?’’, tanya Ronal teman lamanya.
‘’Baik-
baik saja. Ya... seperti yang engkau lihat, kawan’’. Jawab Ramdi.
‘’Ada
apa kawan, pagi- pagi sudah mampir ke rumahku?’’, tanya Ramdi balik
‘’Saya
punya hajat. Mudah- mudahan kamu bisa bekerja sama denganku ya?’’, tanya Ronal
lagi.
‘’Insyaallah,
kalau saya bisa melakukannya, saya siap’’. Jawab Ramdi.
‘’Begini,
saya ingin membuat rumah besarnya lumayanlah besarnya sekitar 12 x 12 meter.
Bagaimana?’’, tanya Ronal
‘’Baiklah’’.
Ramdipun menerima tawaran dari Ronal. Ia tidak mau basa basi lagi atas rezeki
yang telah datang di depan mata.
Mungkin
ini adalah jawaban atas permintaannya semalam. Bahwa Allah tidak tuli, Allah
mendengarkan keluh kesah hambanya yang lagi kesusahan.
‘’Ramdi,
ini bingkisan sebagai uang sakumu dalam pengerjaan rumahku. Ini untuk kamu
sekeluarga, semoga bermanfaat’’, cetus Ronal sambil mengulurkan tangan yang
disertai sebuah amplop kuning tebal.
Dibukanya
amplop tersebut,’’Apa kamu tidak salah kasih untukku sekeluarga. Kamu bercanda
kan?’’, tanya Ramdi dengan heran.
‘’Tidak.
Ini benar- benar dariku untuk memberikan bingkisan kepadamu, Ramdi’’. Jawab
Ronal sambil mengelus punggung temannya.
‘’Terima
kasih ya... Sepertinya aku berada dalam mimpi’, ungkap Ramdi sambil menyalami
temannya yang sudah sukses itu.
‘’Pasti
anak dan istriku akan senang mendengarnya’’, cetus dia dalam hati.
‘’O
ya, Ramdi. Ini uang untuk bayar hutang yang telah lama kupinjam darimu. Uang 5
juta rupiah. Ingat tidak atas pinjamanku kepadamu di kala ingin membuka
usaha?’’, cerita Ronal memperpanjang percakapannya.
‘’Aku
sama sekali tidak ingat dengan hal itu, Ronal. Tapi ya sudahlah. Kamu lupakan
saja. Ini sudah cukup bagiku, uang sebesar lima belas juta sudah cukup untuk
menghidupi keluargaku’’, jawab Ramdi.
Tlit...tlit..tlit....
Bunyi
handphone Ronal berdering pertanda bunyi sms masuk.
‘’Ronal,
kamu segera ke kantor. Ada berita penting yang harus disampaikan’’. Begitulah
bentuk pesan singkat dari teman sekantornya.
‘’Ramdi,
mohon maaf, sepertinya aku segera pulang ke kantor. Nanti saya akan mengabarkan
kepadamu kapan akan dilaksanakannya’’, jelas Ronal.
Setelah
tamunya tadi pulang ia menyempatkan diri untuk pergi ke sekolah anaknya untuk
membayar SPP yang telah lama menunda. Setelah itu pulang ke rumah menunggu
tuang rumah guna untuk membayar kontrakkan rumah dan yang terakhir ia harus
menjemput istrinya dan menjelaskan bahwa ia sudah bisa membayar SPP anaknya dan
uang kontrakkan.
Anak,
istrinya pulang kembali ke rumah dan Ramdi mendapat pekerjaan tetap tanpa harus
istri bekerja membantu membanting tulang dalam mencukupi kebutuhan keluarga.
Kembalinya
semua suasana seperti dulu, canda tawa, senda dan gurau seperti yang dulu.
Keluarga harmonis menjadi target awal bagi Ramdi.
‘’Ma,
maafkan aku bila selama ini telah mengecewakanmu. Aku ucapkan terima kasih atas
bantuanmu dalam mencukupi keperluan keluarga kita’’. Ungkap Ramdi sambil
memegang tangan Shalehah.
‘’Pa,
ini semua bukan salahmu. Ini adalah jalan hidup kita, bagaimana kita berusaha
dan bertawakal atas apa yang telah kita lakukan’’. Jawab istrinya.
‘’Papa,
terima kasih juga ya, sekarang Annisa bisa sekolah lagi. Annisa akan belajar
lebih giat lagi. Annisa janji’’. Kata Annisa dengan menyakinkan kedua orang
tuannya.
‘’Annisa
sayang Papa dan Mama’’. Annisa memeluk kedua orang tuannya.
Dari
kejadian yang telah terjadi, ini menjadi pelajaran bagi dia. Ia akan terus
berjuang membahagiakan anak dan istrinya. Bilamana mempunyai masalah, kendala
dalam proses pembentukan keluarga sakinah, ia harus saling bermusyawarah untuk
menemukan titik temunya. Mereka akan lebuh terbuka lagi agar jangan sampai
membuat keluarganya berantakkan.